While we’re living, the dreams we have as children fade away…
Begitulah petikan lirik lagu Oasis berjudul Fade Away.
Sewaktu saya kecil (SD/SMP), komputer masih tergolong langka. Waktu itu saya beranggapan bahwa komputer adalah mesin pintar yang dapat membantu kita belajar. Dengan kemampuan interaksi pembelajaran yang lebih baik, anggapan bahwa dengan komputer kita dapat memahami suatu ilmu dengan lebih baik, apalagi dengan adanya internet, informasi menjadi terbuka lebar, pembelajaran seharusnya menjadi jauh lebih maju. Semangatnya adalah, jika komputer semakin canggih dan terjangkau, belajar jadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Biaya pendidikan seharusnya semakin murah, ruang pembelajaran lebih fleksibel, serta waktu pembelajaran menjadi semakin efisien.
Tapi apa fakta yang terjadi saat ini? Sekarang kita hidup dikelilingi komputer, mulai yang ada di atas meja, dalam genggaman tangan, hingga di “awan” (cloud computing). Menariknya, hingga saat ini software pendukung pembelajaran jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding software hiburan, seperti game misalnya. Pendek kata, inovasi yang dilakukan untuk dunia pendidikan jauh tertinggal bila dibanding inovasi untuk dunia hiburan.
Mengapa ini terjadi? Banyak faktor, termasuk faktor politis (tidak akan dibahas di tulisan ini). Kita sering mengkambinghitamkan resource/sumber daya, kita mengeluh bahwa kita tidak dapat melakukan sesuatu karena keterbatasan resource/sumber daya, misalnya komputer yang dianggap kurang canggih, dsb. Ironisnya, kini dengan resource berupa komputer yang semakin terjangkau, kita memiliki potensi yang sangat besar untuk membangun peradaban yang jauh lebih baik, tapi tampaknya itu hanya sebatas angan-angan, fakta malah sebaliknya, komputer (dan internet) yang seharusnya membuat kita menjadi lebih produktif dan efisien, ada kalanya justru menjadi faktor penghambat produktivitas. Tidak jarang kita harus mematikan koneksi internet untuk bisa fokus ke pekerjaan.
Apa penyebabnya? Banyak, salah satunya adalah komputer merupakan alat multi fungsi, biasanya alat multi fungsi memiliki tingkat gangguan yang cukup tinggi yang dapat mengalihkan fokus kita (distraction). Dengan kata lain, kita cenderung melakukan multitasking ketika berhadapan dengan komputer (atau peralatan multi fungsi lainnya), bahkan saya menulis artikel ini secara multitasking juga (sambil mendengar musik). Melalui berbagai penelitian ilmiah, multitasking sudah terbukti tidak baik bagi produktivitas, butuh usaha ekstra bagi kita untuk menghindarinya supaya tidak selalu terjebak di dalam ilusi multitasking (anggapan bahwa suatu pekerjaan dikerjakan secara bersamaan, maka lebih cepat).
Apa yang dibayangkan tidak selalu sejalan dengan kenyataan.
Kabar baiknya, ada beberapa pihak yang tetap memperjuangkan pendidikan melalui komputer, salah satunya adalah Game Edukasi.




