Budaya


24
Sep 11

Komputer dan Pendidikan

While we’re living, the dreams we have as children fade away…

Begitulah petikan lirik lagu Oasis berjudul Fade Away.

Sewaktu saya kecil (SD/SMP), komputer masih tergolong langka. Waktu itu saya beranggapan bahwa komputer adalah mesin pintar yang dapat membantu kita belajar. Dengan kemampuan interaksi pembelajaran yang lebih baik, anggapan bahwa dengan komputer kita dapat memahami suatu ilmu dengan lebih baik, apalagi dengan adanya internet, informasi menjadi terbuka lebar, pembelajaran seharusnya menjadi jauh lebih maju. Semangatnya adalah, jika komputer semakin canggih dan terjangkau, belajar jadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Biaya pendidikan seharusnya semakin murah, ruang pembelajaran lebih fleksibel, serta waktu pembelajaran menjadi semakin efisien.

Tapi apa fakta yang terjadi saat ini? Sekarang kita hidup dikelilingi komputer, mulai yang ada di atas meja, dalam genggaman tangan, hingga di “awan” (cloud computing). Menariknya, hingga saat ini software pendukung pembelajaran jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding software hiburan, seperti game misalnya. Pendek kata, inovasi yang dilakukan untuk dunia pendidikan jauh tertinggal bila dibanding inovasi untuk dunia hiburan.

Mengapa ini terjadi? Banyak faktor, termasuk faktor politis (tidak akan dibahas di tulisan ini). Kita sering mengkambinghitamkan resource/sumber daya, kita mengeluh bahwa kita tidak dapat melakukan sesuatu karena keterbatasan resource/sumber daya, misalnya komputer yang dianggap kurang canggih, dsb. Ironisnya, kini dengan resource berupa komputer yang semakin terjangkau, kita memiliki potensi yang sangat besar untuk membangun peradaban yang jauh lebih baik, tapi tampaknya itu hanya sebatas angan-angan, fakta malah sebaliknya, komputer (dan internet) yang seharusnya membuat kita menjadi lebih produktif dan efisien, ada kalanya justru menjadi faktor penghambat produktivitas. Tidak jarang kita harus mematikan koneksi internet untuk bisa fokus ke pekerjaan.

Apa penyebabnya? Banyak, salah satunya adalah komputer merupakan alat multi fungsi, biasanya alat multi fungsi memiliki tingkat gangguan yang cukup tinggi yang dapat mengalihkan fokus kita (distraction). Dengan kata lain, kita cenderung melakukan multitasking ketika berhadapan dengan komputer (atau peralatan multi fungsi lainnya), bahkan saya menulis artikel ini secara multitasking juga (sambil mendengar musik). Melalui berbagai penelitian ilmiah, multitasking sudah terbukti tidak baik bagi produktivitas, butuh usaha ekstra bagi kita untuk menghindarinya supaya tidak selalu terjebak di dalam ilusi multitasking (anggapan bahwa suatu pekerjaan dikerjakan secara bersamaan, maka lebih cepat).

Apa yang dibayangkan tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Kabar baiknya, ada beberapa pihak yang tetap memperjuangkan pendidikan melalui komputer, salah satunya adalah Game Edukasi.


16
Oct 10

Sharing is Caring

Meminjam jargon salah satu tracker torrent terbesar di dunia, The Pirate Bay, adalah ‘Sharing is Caring’. Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri di dunia ini.

The Hoarder
Hanya saja, demi kepentingan tertentu, seperti isu kekayaan intelektual misalnya, terkadang manusia menjadi egois dan berusaha untuk menciptakan monopoli. Sebagian besar dari Anda mungkin pernah menjumpai seorang teman di sekolah yang kalau sedang mengerjakan sesuatu (entah itu tugas atau latihan soal) selalu berusaha menutupi pekerjaannya (entah itu dengan tangan atau buku atau benda lainnya) seperti gambar di atas. Dia tidak ingin pekerjaannya itu Anda lihat. Mungkin dalam pikirannya, dia adalah yang terbaik di kelas dan ingin memperoleh nilai yang paling tinggi dengan cara memonopoli ilmu yang ia miliki. Diapun berhasil meraih nilai tertinggi di kelas. Tapi apakah itu tujuan pendidikan? Meraih nilai tertinggi dan mengalahkan kawan-kawan seolah mereka itu adalah lawan? Menurut saya tujuan pendidikan bukan itu, tetapi untuk menjadikan yang salah menjadi benar, yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak mengerti menjadi mengerti.

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). [QS.55:60]

Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. [QS.27:89]

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. [QS.99:7]

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. [QS.42:23]

Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu. [QS.28:84]

Give away everything you know, and more will come back to you. –Paul Arden

Sharing is caring, berbagi dalam kebaikan…

Catatan: Gambar ilustrasi diambil dari buku IT’S NOT HOW GOOD YOU ARE, IT’S HOW GOOD YOU WANT TO BE (Paul Arden)


27
Sep 09

Batik Rakyat Buatan Nenek

Membatik

Membatik

Akhir-akhir ini, orang-orang sangat antusias mengenakan pakaian batik. Dunia telah mengakui bahwa batik adalah kebudayaan yang berasal dari Indonesia. Tapi bukan semua batik, hanya batik tulis saja yang sudah diakui sebagai kebudayaan Indonesia. Cerita tentang naiknya popularitas batik cukup kontroversial, sebagian orang beranggapan bahwa antusias masyarakat Indonesia terhadap batik tidak lepas akibat klaim yang pernah dilakukan Malaysia atas batik. Dulu sebelum batik diklaim oleh Malaysia, batik hanya dianggap sebelah mata oleh sebagian orang, bahkan ketika ada orang berpakaian batik tidak jarang ada yang menyeletuk “Mau ke kondangan yah?”. Tapi seiring perkembangan jaman, masyarakat menjadi semakin dewasa, masyarakat lebih bisa menghargai kebudayaan bangsanya sendiri.

Dulu waktu kuliah, tidak jarang saya mengenakan pakaian batik untuk ke kampus, salah satunya adalah batik tulis buatan nenek saya. Sebenarnya bukan nenek, tapi lebih tepatnya adik dari nenek saya. Bukan apa-apa, tapi karena memang tidak ada baju yang lain, hehehe.. Adik nenek saya adalah seorang pengrajin batik di salah satu kabupaten kecil di Provinsi Jawa Timur. Beliau telah bertahun-tahun menekuninya, dengan proses tradisional, bahkan tangannya telah berubah warna (seperti di-tatto) karena bertahun-tahun terkena pewarna batik (beliau tidak pernah menggunakan sarung tangan). Saya yang sangat awam terhadap batik tidak tahu pasti apa jenis batik yang dibuat beliau, tapi menurut Ibu Asmorodewi Damais, Kurator Museum Batik di Pekalongan, batik tersebut termasuk kategori batik rakyat atau batik desa.

Ayo, ada yang mau pesan kain batik tulis buatan nenek saya? Itu salah satu contoh batik yang sedang dikerjakan.


18
Sep 09

Mengetik Hanacaraka

Huruf Hanacaraka (Aksara Jawa) sudah cukup akrab bagi saya yang tinggal di Jawa Timur. Sejak SD hingga SLTP, ada mata pelajaran Bahasa Daerah yang selalu memuat subjek Aksara Jawa. Huruf Hanacaraka ini sangat eksotik, apalagi huruf ini tidak sembarang dibuat, tetapi diurutkan menjadi suatu alur cerita. Lekukannya sangat cantik dan artistik, Hanacaraka adalah sebuah karya seni.

Menariknya, saya menemukan sebuah website yang didedikasikan secara khusus untuk Hanacaraka. Alamatnya di http://hanacaraka.fateback.com. Banyak sekali hal-hal berkaitan dengan Hanacaraka yang dapat Anda temukan di website ini. Untuk bisa mengetik huruf Hanacaraka, yang harus Anda lakukan adalah mengunduh huruf truetype Hanacaraka dan menginstallnya pada sistem Anda. Cara menginstall huruf berbeda-beda tergantung sistem operasi yang Anda gunakan. Setelah huruf terinstall, Anda sudah dapat mengetik Aksara Jawa dengan aplikasi text-editor/word-processor kesukaan Anda

Tidak perlu takut kesulitan, untuk mempermudah, Anda dapat mengunduh buku panduannya. Bahkan bila Anda tidak pernah tahu sama sekali tentang Hanacaraka, Anda dapat mempelajarinya mulai nol dari website yang tadi saya sebutkan. Setelah saya coba, ternyata cukup menyenangkan mengetik dengan huruf Hanacaraka.

Berikut ini screenshot huruf Hanacaraka pada aplikasi Apple Pages ‘09

Huruf Hanacaraka di aplikasi Apple Pages '09

Huruf Hanacaraka di aplikasi Apple Pages '09

Coba tebak, tulisan di atas bacaannya apa? Haha..