- Silver bullet, dapat digunakan untuk menyelesaikan semua permasalahan.
- Dengan agile, kita dapat melakukan apapun sesuka hati, tanpa aturan yang jelas.
- Tidak memiliki perancangan, dokumentasi, arsitektur, dsb.
- Menghasilkan produk yang tidak terjamin kualitasnya.
- Tidak digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar.
Tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan agile. Kondisi dan kultur tim juga berpengaruh terhadap keberhasilan penerapan agile.
Agile membutuhkan kedisiplinan yang sangat ketat dan aturan yang jelas, karena agile didesain untuk menghadapi lingkungan yang sangat dinamis. Tanpa ini semua, agile tidak akan pernah berhasil.
Seperti metodologi lain pada umumnya, agile juga membuat perancangan, dokumentasi, arsitektur, dsb. Justru semua ini dilakukan secara transparan dan menitik beratkan pada kebutuhan, kecepatan dan kualitas. Memang kadang kala agile menghasilkan dokumentasi yang minimalis, tapi bukan berarti dokumentasi tersebut dibuat minimalis dengan cara mengabaikan banyak hal esensial sehingga tidak dapat merepresentasikan sistem yang dibangun secara komprehensif. Hal ini karena agile selalu berusaha meminimalisir pemborosan tenaga dan waktu, sehingga menghasilkan iklim kerja yang efektif dan efisien.
Pengujian (testing) adalah bagian yang krusial pada agile. Salah satu parameter perangkat lunak yang berkualitas adalah perangkat lunak yang telah lolos uji. Pada metode tradisional, pengujian kadang kala malah dianggap remeh dan hanya untuk seremonial semata.
Berdasarkan Forrester Research, 14% enterprise di Amerika Utara dan Eropa telah menggunakan agile, dan 19% lainnya tertarik dan berencana untuk menggunakan agile di masa mendatang. Google dan Yahoo adalah dua dari sekian perusahaan ternama yang telah menggunakan agile.
Dan masih banyak lagi mitos seputar agile…